FIGUR

Published in FIGUR

Constantine Otis Wuisan: "Kita Harus Jaga Persatuan untuk Memajukan Indonesia"

Feb 03, 2017 Hit: 571 Written by  Syarif
Constantine Otis Wuisan, social entrepreneur berjiwa nasionalis
Constantine Otis Wuisan, social entrepreneur berjiwa nasionalis Foto Syarif

Jakarta,visioneernews-Di usia 14 tahun, persisnya di tahun 1998, Constantine Otis Wuisan menuruti saran orangtuanya melanjutkan studi di Choate Rosemary Hall Academy, Wallingford, Connecticut, USA. Dia “terpaksa” meninggalkan teman-teman bermainnya yang sudah terjalin sejak TK, SD, hingga SMP di Regina Pacis, Jakarta.

 

Negeri Paman SAM masih asing bagi Constantine remaja. Ketika itu ia belum melihat ada orang Indonesia yang bersekolah di SMA terbaik ketiga di USA tersebut. Terlebih Constantine harus tinggal di asrama selama tiga tahun. Perasaan down, gelisah, terasing, sempat bergejolak dalam bathin Constantine selama beberapa bulan tinggal di USA.

Perlahan-lahan gelisahan itu dilawan pria kelahiran Jakarta, 9 April 1983 tersebut. Seiring waktu, Constantine menjadi anak yang mandiri dan mudah bergaul. Terlebih dia mulai menjalin persahabatan dengan berbagai siswa yang menempuh di Choate Rosemary Hall Academi, yang berasal dari berbagai negara di dunia.

Setelah lulus dari Choate Rosemarry Hall Academy, Constantine melanjutkan studi S1 jurusan ekonomi di University of Wisconsin - Madison, USA. Ia kemudian melanjutkan program S2 di University Baruch College, New York, USA, jurusan finance.

“Bagi orangtua saya, pendidikan memiliki peranan penting. Karena itu, mereka menanamkan kepada anak-anaknya untuk mengutamakan pendidikan. Mereka juga menanamkan tentang harga diri,  integritas, dan reputasi. Harga diri, integritas, dan reputasi itu tidak bisa dibeli dengan uang. Prinsip-prinsip itulah yang diajarkan orangtua saya, agar menjadi pegangan hidup anak-anaknya,” kata Contantine.

Belakangan Constantine menyadari kerasnya ajaran yang diterapkan kepada anak-anaknya, tak lain sebagai bekal hidup di kemudian hari. Constantine bahkan sempat kesal harus mengikuti titah orangtuanya menjalani karier di dunia perbankan seusai menyelesaikan studi.

“Latar belakang keluarga saya adalah perbankan. Sejak kecil saya sudah diarahkan menjadi bankir. Arahan itu biasanya disampaikan orangtua saya saat makan bersama di meja makan. Mereka juga sering mengajak diskusi tentang dunia perekonomian, baik makro maupun mikro, sampai persoalan politik,” ujar Constantine.

Soal dunia politik, menurut pandangan orangtuanya, jika dipelajari dengan baik, kelak anak-anaknya itu bisa beradaptasi dengan berbagai kalangan. Namun, lantaran ketika itu Constantine masih remaja masih enggan mempelajari politik. Menurutnya, semua orang dengan mudah memahami politik, misalnya dengan cara membaca berita di koran, melihat televisi, atau mendengarkan informasi politik di radio.

Setelah menyelesaikan studi Master of Science in Finance di The City University of New York – Baruch, New York, Constantine pulang ke rumah orangtuanya di Singapura. Di negeri ini, ia sempat bekerja di LGT Bank in Liechtenstein (Singapore) Ltd, Singapore. Constantine juga sempat bekerja di PT Credit Suisse Investment Management Indonesia.

Barulah pada tahun 2009 ia memutuskan kembali ke Indonesia. “Saya memutuskan ingin balik ke Indonesia,  karena  Indonesia adalah negara saya. Saya lahir dan besar di Indonesia. Saya adalah warga negara Indonesia. Jiwa nasionalisme saya kepada Indonesia sangat tinggi,” papar Constantine tentang kecintaannya kepada tanah kelahirannya Indonesia.

Di Jakarta, ia sempat bekerja sebagai Graduate Management Acceleration Program (SME Banking) di Bank Permata, tetapi pada akhirnya mendirikan perusahaan sendiri di bidang agrobisnis yang nanti merambah bidang lain yaitu, properti dan Infrastruktur.  

Baginya bisa saja terus berkarir di dunia perbankan, tetapi dirinya masih muda dan jika terus dipaksakan untuk berkarir diperbankan itu menjadi bukan dirinya. “Setelah tiga tahun berkerja di bank, saya berfikiran keluar dari bidang tersebut. Waktu kerja di bank saya sudah memiliki relasi. Maka saya putuskan untuk menjadi entrepreneur,” kata Constantine.  

Pilihannya untuk berwirausaha karena merasa mampu berbuat lebih banyak untuk tanah airnya, Constantine merasa mempunyai strong sense of belonging sebagai orang Indonesia. Bidang usaha yang dipilihnya adalah usaha yang sustainable development dan tidak mau bekerja untuk usaha yang merusak lingkungan. Berdasarkan pengalaman kuliahnya di Amerika, dia berkesimpulan orang orang lebih tertarik kepada industri makanan dan gaya hidup, sehingga pilihan jatuh kepada industri agribisnis.

Constantine kemudian mendirikan perusahaan PT Walnut Capital, sebuah perusahaan investasi di bidang pertanian, properti dan infrastruktur. Perluasan bidang usahanya dari agrobisnis bertambah ke bidang properti dan infrastrutur disebabkan karena pergaulan dan wawasannya yang luas, tidak hanya di Indonesia koleganya juga berasal dari Amerika, Hongkong, Singapura, Jepang, Korea dll. Misalnya seorang teman kuliahnya dari Korea yang kemudian mengajaknya bekerjasama di bidang infrasruktur dan properti.

Constantine benar-benar memaksimalkan kesempatannya sebagai young social entreprenuer dengan mencoba dan terus bekerja keras. Ketertarikannya dibidang properti karena ada banyak peluang pariwisata di Indonesia khususnya di Indonesia Timur yang memiliki pantai yang bagus bagus tapi minim sarana dan prasarana. Peluang berikutnya Constantine memprediksi kalangan menengah ke atas di Indonesia akan semakin bertambah dan pariwisata adalah salah satu andalan Indonesia.

Begitu juga di bidang infrastruktur, menurutnya tidak mungkin pemerintah sendirian melaksanakan pembangunan infrastruktur di Indonesia, mesti di dukung oleh sektor swasta. Infrastruktur juga dipandang oleh Constantine sebagai bisnis yang mempunyai multiple effect bagi masyarakat banyak.

Constantine menyadari sebagai sosial entreprenuer, bidang usaha yang digelutinya harus memberi manfaat bagi orang banyak, profit memang penting tetapi kontribusi bagi negara juga harus diperhatikan. Hal ini menunjukan adanya idealisme dirinya dalam menjalankan usahanya sebagai social entreprenuer.

Sebagai entrepreneur, Constantine mengatakan dalam berusaha harus tahan banting dalam mencari peluang usaha, prinsip utama dalam bekerja adalah 4 S (kerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja tuntas). Harus berani keluar dari zona nyaman (Out of comfort zone), dan selalu berdoa untuk pertolongan Tuhan.

Sebagai pengusaha muda yang sukses di bidang agribisnis, properti dan infrastruktur, masih ada cita-cita Constantine yang belum terwujud, yaitu berharap suatu saat mempunyai sebuah Yayasan untuk saudara saudara kita yang belum beruntung. Yayasan dibuat untuk kebutuhan paling dasar yaitu dibidang kesehatan dan pendidikan. “Profit penting, tapi bukan segala-galanya. Kita harus membantu masyarakat. kita harus membuat sesuatu yang bisa dirasakan oleh masyarakat luas. Itulah pengusana nasionalis,” katanya.

Aktif di Organisasi

Selain sebagai entrepreneur, Constantine juga aktif di dunia organisasi kepemudaan di Liga Mahasiwa Nasdem sejak tahun 2011, ketika Nasdem masih menjadi organisasi kemasyarakatan (Ormas). Ketika Nasdem berubah menjadi partai politik, Constantine mendapat amanah sebagai Wakil Bendahara Umum DPP Garda Pemuda Nasdem sejak 2015. Barulah pada tahun 2014 bergabung di Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda (BPD HIPMI) DKI Jakarta. Keinginan bergabung di HIPMI Jaya untuk menambah pengalaman dan memperluas networking di kalangan dunia pengusaha.

Di BPD HIPMI Jaya, Constantine menangani bidang Pasar Modal dan Investasi. Constantine bahkan mendapat predikat sebagai salah satu kader terbaik HIPMI Jaya tahun 2014. Pasalnya, baru dua tahun aktif di HIPMI Jaya berani maju dalam pencalonan ketua umum, dan tidak pernah mundur sampai akhir pencalonan.

Constantine mencalonkan diri sebagai calon ketua umum HIPMI Jaya untuk masa bakti 2017-2020. Ia maju bersama ketiga kandidat lainnya, yaitu Muhammad Aaron Sampetoding, Affifuddin Suhaeli Kalla, dan Ardi Mahardika. Sebagai salah satu kader terbaik, Constantine  selalu berusaha  memberikan yang terbaik untuk  bangsa dan negara Indonesia. 

Dari diskusi dan pengalamannya di organisasi, Constantine berpendapat peran pemerintah dalam dunia usaha kurang maksimal. Pemerintah dan pengusaha harus bergandengan tangan berjalan bersama untuk perbaikan ekonomi nasional. Solusi ekonomi harus menyentuh sebagai solusi yang mendasar dan bukan hanya sampai kulitnya saja, oleh karena itulah basic need perekonomian itu infrastruktur.

“Indonesia sudah 71 tahun merdeka, tapi kondisinya masih belum bagus. Kinerja pemerintahan Presiden Jokowi sudah baik. Hanya sekarang implementasi harus segera direalisasikan. Saya yakin Indonesia bisa menjadi negara yang dibanggakan di masa depan. Semua mata akan tertuju ke Indonesia. Karena itu kita harus jaga persatuan untuk memajukan Indonesia,” kata Constantine optimis. (Syarif)

 

Last modified on Saturday, 04 February 2017 19:05
Read 571 times
Rate this item
(0 votes)

K2 Tags

K2 Calendar

« December 2017 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

Sering Dibaca

Galeri Video

PILKADA

101 Daerah yang Gelar
Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak ...
Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Green red Oranges blue crimson

Body

Background Color
Text Color

Header

Background Color
Background Image

Spotlight4

Background Color

Footer

Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family
Direction