Industri

Published in Industri

Pentingnya Ekonomi Hijau untuk Mengurangi Emisi Rumah Kaca

Oct 06, 2017 Hit: 97 Written by  Eko AP
konperensi pers tentang aspek ekonomi hijau untuk melestarikan lingkungan
konperensi pers tentang aspek ekonomi hijau untuk melestarikan lingkungan Foto Eko AP

Jakarta,visioneernews-Dunia ekonomi, khususnya pelaku usaha, perlu menerapkan green economy dalam melakukan bisnisnya. Upaya menjaga kelestarian lingkungan dan mengurangi efek gas rumah kaca.

 

Seiring semakin meningkatnya kegiatan ekonomi yang kerap menimbulkan dampak lingkungan, perlu ada kesamaan pandangan mengenai kebijakan penerapan ekonomi hijau ini antara pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan pelaku usaha, serta industri, dalam menghadapi persoalan seperti isu perubahan iklim dan  perlindungan lingkungan hidup.

Demikian Ketua Yayasan World Islamic Economic Forum (WIEF), Tun Musa Hitam, menyampaikan pandangannya dalam diskusi meja bundar yang membahas berbagai aspek ekonomi hijau mulai dari tantangan, peluang, dan  kebijakan terkait ekonomi hijau yang berlangsung di Hotel Le Meredien, Jakarta, Kamis (5/9/2017).

Tun Musa juga menyinggung peranan ekonomi digital saat ini yang dinilai ramah lingkungan. Ia menyebut, perkembangan ekonomi digital di ASEAN saat ini telah menghasilkan pendapatan sekitar US$150 miliar per tahun dengan potensi sebesar US$1 triliun terhadap PDB pada 2025.

Menurutnya, dengan ekonomi digital dan integrasi ASEAN untuk meningkatkan kegiatan ekonomi, ASEAN akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar di Asia. Saat ini ASEAN secara gabungan memiliki PDB sebesar US$2,4 triliun dan merupakan kawasan dengan pertumbuhan ekonomi terbesar ketiga di Asia setelah Tiongkok dan India.

"Maka, keduanya (ekonomi hijau dan ekonomi digital) harus saling melengkapi untuk menciptakan kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan seiring dengan kemajuan ekonomi," kata Tun Musa.

Pentingnya dunia ekonomi, khususnya ekonomi Islam untuk berubah menuju green economy tersebut, lanjut Tun Musa, karena saat ini emisi terkait penggunaan energi dari negara-negara ASEAN telah menyumbangkan 4 persen gas rumah kaca secara global. Untuk itu, melalui green economy dan sesuai Perjanjian Paris, dunia ekonomi harus mengurangi emisi rumah kaca paling sedikit 50 persen sampai tahun 2030.

"Bagaimana isu bisa lebih dipahami dan menjadi perhatian masyarakat serta pelaku ekonomi. Kita harus saling melengkapi untuk menciptakan kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan seiring dengan kemajuan ekonomi," paparnya.

Sementara Staf Ahli bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Agus Justianto, mengatakan, sebagai negara yang ikut menandatangani Perjanjian Paris, Indonesia sudah melakukan berbagai program untuk mendukung konsep ekonomi hijau.

"Sesuai Perjanjian Paris, Indonesia menargetkan untuk mengurangi emisi rumah kaca dari tahun 2020 hingga 2030 sebesar 29 persen, meliputi sektor energi,  industri, dan land-base," jelas Agus.

Di tempat yang sama, Chairman WIEF SME Initiative sekaligus Presiden Komisaris Pertamina, Tanri Abeng, mengakui jika sektor energi merupakan penyumbang terbesar dari perusakan lingkungan. Untuk itu, perusahaan-perusahaan energi juga harus ikut andil dalam menciptakan green economy.

Salah satu yang bisa dilakukan yakni dengan mengembangkan energi baru terbarukan dan energi alternatif untuk menggantikan energi fosil yang semakin lama semakin menipis persediaannya.

"Makanya kita sudah mulai gunakan bio energi, tapi kita juga harus cari lagi yang lain. Bahkan sekarang energi itu sudah bisa dikembangkan dari baterai, misalnya di Jepang sudah maju sekali," tukasnya.

Selain itu, Tanri juga mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam green economy dengan mendirikan usaha-usaha rakyat yang bergabung menjadi Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) seperti BUMR Pangan yang ada di Sukabumi. BUMR yang bisa dikembangkan selain di sektor pangan yakni di sektor perkebunan dan kelautan.

"Kuncinya pemerintah harus ada kebijakan yang membantu misal dari fiscal, dan perbankan harus bisa mendorong usaha kecil melalui kemudahan pembiayaan," tukasnya.

Pembahasan green economy itu merupakan rangkaian acara menuju Forum Ekonomi Islam Dunia ke-13 yang akan diselenggarakan di Kuching, Serawak, Malaysia pada 21-23 November 2017 mendatang. (Eko AP)

Last modified on Friday, 06 October 2017 08:12
Read 97 times
Rate this item
(0 votes)

K2 Tags

K2 Calendar

« December 2017 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

Sering Dibaca

Galeri Video

PILKADA

101 Daerah yang Gelar
Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak ...
Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Green red Oranges blue crimson

Body

Background Color
Text Color

Header

Background Color
Background Image

Spotlight4

Background Color

Footer

Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family
Direction