Ali Zum Mashar
Home » Ali Zum Mashar, Pelopor Revolusi Pertanian di Pedalaman Papua
FIGUR

Ali Zum Mashar, Pelopor Revolusi Pertanian di Pedalaman Papua

KALA kecil, seusai pulang sekolah di SDN Bakung, Demak, Jawa Tengah, Ali Zum Mashar, kerap bermain bersama teman-teman sebayanya di pematang sawah. Ali kecil merasa senang bila berada di tengah-tengah hamparan menguning padi di sawah. Namun di balik keriangannya itu, tersimpan rasa prihatin bila ia melihat kehidupan sosial para petani di desanya. “Petani di desa saya rata-rata miskin, sehari-hari hidupnya susah,” kata Ali Zum Mashar yang lahir dan dibesarkan dari keluarga pesantren di Demak.

Semasih duduk di bangku SMPN 1 Mijen,  pria kelahiran 19 Mei 1972 ini, bertekad ingin melanjutkan studi di SMAN 1 Kudus, yang merupakan sekolah favorit ketika itu. Ali Zum Mashar berhasil mewujudkan tekadnya. Menjadi Ketua Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) di SMA itu, ia mulai banyak menekuni karya-karya ilmiah.  “Saya juga sering membuat tulisan dan karya-karya ilmiah remaja,” cerita Ali Zum Mashar.

Kecintaannya terhadap  sektor pertanian, menghantarkan pria kalem ini mengenyam pendidikan S1 di Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Jawa Tengah, tahun 1991. Ali Zum Mashar pun semakin menggenjot kegemarannya menulis karya-karya ilmiah, selain aktif mengikuti berbagai kriteria lomba. Dia pun aktif di berbagai organisasi, seperti organisasi keagamaan, profesi, dan menjadi Ketua Pelaksana Harian Senat di kampusnya.  

“Seangkatan saya di kampus, mungkin saya yang sering menulis karya ilmiah dan mengikuti berbagai macam lomba,” tutur Ali Zum Mashar yang pernah menggondol penghargaan Mahasiswa Berprestasi Utama Faperta dan Teladan Unsoed tahun 1995, Juara LP2P4 Unsoed dan Jateng tahun 1994, Juara I MTQ Onsed, Juara I Lomba Penelitian Inovasi IPTEK Terapan di Semarang tahun 1997, Pemilihan Peneliti Muda Indonesia Tahun 1997 oleh LIPI, Rancang Bangun Teknologi di Hari Kebangkitan IPTEK, dan penghargaan lainnya.

Presiden Megawati memberikan penghargaan Anugerah Kalyanakretya Utama bidang Pertanian dan Agroindustri kepada Ali Zum Mashar tahun 2004

Sebelum melanjutkan pendidikan S2 di Institut Pertanian Bogor (IPB), pada tahun 1997, Ali Zum Mashar lebih dulu melakukan penelitian pemberdayaan lahan gambut 1 juta hektar di Kalimantan Tengah yang digalakkan Depnakertrans. Dalam program itu, pihak Depnakertras mendaulat Ali Zum Mashar sebagai Ketua Unit Pemukiman Transmigrasi (KUPT).

“Selain membina masyarakat transmigrasi, saya juga melakukan penelitian secara mandiri. Ketika bereksperimen, saya memenukan mikroba yang bisa menetralkan kandungan asam  di tanah gambut bekas tambang emas di Kerengpangi, Kalimantan Tengah, sehingga bisa ditanami padi,” kenangnya.

Ali Zum Mashar merasa haru sekaligus bangga dengan hasil eksperimennya, karena dapat memecahkan permasalahan para trans yang sebelumnya bingung mengelola lahan gambut itu. Ia pun semakin mendalami ‘mahluk’ mikroba yang bisa dijadikan pupuk penyubur tanaman hasil temuannya itu.

Meyakini mikroba ini bisa dijadikan pupuk penyubur tanaman, Ali Zum Mashar kemudian menelitinya di laboratorium Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta dan di laboratorium Institut Pertanian Bogor. Hasil penelitiannya, mikroba dari bahan hayati, baik flora maupun fauna ini memiliki khasiat mampu menyuburkan tanah dan tanaman.

Pada tahun 2000, Ali Zum Mashar mematenkan mikroba temuannya itu dengan nama: Bioperforasi  Pupuk 2000 Zum, yang disingkat Bio P 2000 Z. “Kata bioperforasi itu artinya membuka celah kehidupan. Jadi, jika ada kesulitan, dan kita menemukan celah, kita bisa membuka kesulitan itu. Huruf ‘P” singkatan dari pupuk, sedangkan angka 2000, tahun mikroba itu saya patenkan. Kemudian huruf ‘Z’ diambil dari nama saya, yaitu Zum,” jelasnya.

Dalam perjalanan pengembangan penelitian selanjutnya, ternyata mikroba yang sudah dikemas dalam bentuk cairan (Bio P 2000 Z) ini tak hanya menyuburkan tanah dan tanaman, tapi mampu meningkatkan produktivitas hasil tanaman, dan manfaat lainnya.

Selanjutnya, di tahun 2004, Ali Zum Mashar melengkapi mikroba temuannya itu menjadi Mikroba Google Bio P 2000 Z. “Setelah saya dalami, ternyata unsur-unsur dari mikroba itu memiliki sifat-sifat seperti mesin google. Dia mampu melengkapi kekurangan yang dibutuhkan tanah dan tanaman, sehingga menjadi lebih bermanfaat,” tuturnya.

Berkat mikroba yang memiliki multi fungsi untuk tanaman, dan belakangan bisa digunakan untuk obat kesehatan ternak, Ali Zum Mashar diberikan Anugerah Kalyanakretya Utama bidang Pertanian dan Agroindustri Kemenristek oleh Presiden Megawati Soekarnoputri di tahun 2004.

Tak hanya di Indonesia, nama pria yang sudah menyelesaikan S3 program studi Ekonomi Sumber Daya Lingkungan di IPB tahun 2009 ini, sampai harum di lingkungan Pemerintah Uni Emirat Arab. Ihwalnya, Ali Zum Mashar diminta Pemerintah Uni Emirat Arab untuk menyuburkan gurun pasir di Dubai dengan menggunakan Mikroba Google Bio P 2000 Z. Lagi-lagi, dia sukses menyulap lahan gurun itu menjadi lahan padi yang subur.

Pemerintah Arab Saudi meminta Ali Zum Mashar untuk menyuburkan gurun pasir di Dubai

Maka, wajar jika mikroba google ini akhirnya mendapat empat lisensi paten dari WIPO, sebuah lembaga paten yang berdomisili di Swedia. Mikroba Google Bio P 2000 Z yang dipasarkan oleh PT Alam Lestari sebagai fabrikator induk pun sudah menembus pasar dalam dan luar negeri, seperti Malaysia, Australia, China, dan negara lainnya.

Kesuksesan yang raih Ali Zum Mashar tak menjadikan dirinya lupa akan nasib saudara-saudara sebangsanya di Tanah Air yang  mengalami kesulitan mengelola lahan pertaniannya. Seperti yang dilakukan Ali Zum Mashar saat ini, ia mencurahkan tenaga dan pikirannya membantu masyarakat pedalaman di Kampung Usku, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua.

Ali Zum Mashar, yang saat ini menjabat CEO PT Kuzu International dan Sekjen Masyarakat Pertanian Organik Indonesia, merasa prihatin dengan kehidupan masyarakat di Kampung Usku. Peradaban kehidupan masih terbelakang, mencari makanan di dalam hutan, dan anak-anak balitanya mengalami gizi buruk. Kepada Syarifudin Bachwani dari Majalah Visioneer, Ali Zum Mashar, penggerak Socio Technopreneur yang juga peneliti dari Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal, dan Transmigrasi ini, menuturkan petualangannya di daerah perbatasan Indonesia tersebut.     

Anda begitu peduli dengan kehidupan masyarakat pedalaman di Indonesia. Apa yang menjadi concern Anda?

Saya concern untuk peningkatan kapasitas sosial masyarakat dalam rangka ikut membangun masyarakat pedesaan. Menurut saya, kelemahan di pedesaan, pertama, kurangnya entrepreneur yang berpendidikan dan berpengalaman. Kedua, walapun sumber daya alam di desa itu melimpah, tetapi sistem manajemennya sangat rendah. Karena mereka tidak melihat secara luas. Misalnya kurang memperhatikan sisi pasar dalam pengelolaan potensi-potensi yang ada di desa itu.

Tak hanya di desa atau tingkat provinsi sekalipun, secara nasional, entrepreneur di Indonesia jumlahnya juga masih sedikit. Mestinya, Indonesia yang memiliki jumlah penduduk sekitar 260-an juta, jika perekonomiannya ingin berjalan dengan baik, artinya terjadi pemerataan kesejahteraan, minimal membutuhkan 2 persen entrepreneur. Sementara entrepreneur di Indonesia saat ini tidak mencapai 1 persen.  Jadi, harus digenjot lagi dalam membangun kesadaran masyarakat untuk berwirausaha.

Anda lebih menekuni Socio Technopreneur. Bagaimana Anda “menularkan” bidang itu ke masyarakat Indonesia, setidaknya untuk tahap awal menjadi sociopreneurship?

Menurut saya, membangun sociopreneurship, menjadi yang utama. Karena, jika kita ingin membantun jiwa entrepreneur tanpa adanya gerakan secara socio, berjalannya akan lambat, sehingga hanya berjalan di kalangan atas saja. Kalangan menengah ke bawah tidak akan tersentuh pola pikir dan pandangan untuk menjadi entrepreneur yang sukses.

Saya baru saja menemukan metode untuk percepatan perubahan peradaban, revolusi peradaban, atau perubahan mindset skala massal. Metode ini sedang saya aplikasikan pada masyarakat, saudara-saudara kita di daerah pedalaman Papua. Metode ini sekaligus untuk menjawab pendapat pihak lain yang mengatakan bahwa daerah-daerah pedalaman di Papua bisa mengejar ketertinggalannya atau ingin mensejajarkan kondisinya dengan masyarakat pedesaan di Jawa, membutuhkan waktu 75 sampai 100 tahun. Menurut saya, asumsi itu merupakan pandangan lama. Melalui metode yang kami temukan dan sudah diuji, waktunya tidak perlu sampai 75 tahun, cukup membutuhkan waktu 3 sampai 7 tahun.

Bisa secepat itu ya?

Jika kita lihat masyarakat Papua, saya mengambil contoh di kampung yang ekstrem sekali, yaitu di Kampung Usku, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Kampung itu merupakan daerah perbatasan dan daerah pinggiran di Indonesia. Perdasarkan pengamatan saya, program pembangunan pemerintah belum menyentuh daerah ini. Paling yang disentuh sebatas pembangunan infrastruktur, dan belum pada level pembangunan peradaban masyarakatnya.

Masyarakat di Kampung Usku merupakan masyarakat nomaden, yang melakukan aktivitas berburu dan meramu di hutan. Pemerintah memang sudah memberikan perhatian kepada masyarakat di kampung ini, seperti pembangunan rumah dan infrastruktur jalan. Hal ini dalam rangka mengimplementasikan Program Nawacita, yaitu membangun dari daerah pinggiran. Tetapi apa yang terjadi? Rumah yang dibangun oleh pemerintah tidak mau mereka tempati.

Pengolahan lahan perkebunan di Kampung Usku, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua

Mereka berfikiran, untuk apa tinggal di rumah yang bagus, tapi perutnya lapar, dan susah mencari makan. Untuk merubah peradaban masyarakat seperti itu, agar mau hidup dan tinggal secara subsisten, butuh waktu sekitar 30 tahunan. Belum termasuk hidup subsisten secara budidaya agriculture, untuk memenuhui segala kebutuhannya dari alam hingga tahap menjualnya. Tapi, jika dibiarkan secara alami (nomaden), pola peradabannya baru bisa berkembang selama 75 sampai 100 tahun.

Tetapi, melalui metode yang kami terapkan dan telah diuji oleh Badan Litbang Kementerian Desa, hanya butuh waktu 3 sampai 7. Sekarang saja, dalam jangka waktu tiga bulan, mereka sudah mau berubah, dari pola hidup berpindah-pindah mencari makanan, menjadi menetap dengan cara budidaya berbagai macam tanaman. Bahkan mereka mau menanam tanaman yang semula mereka tidak dikenalnya.

Bagaimana Anda bisa merubah pola kebiasaan hidup masyarakat di Kampung Usku?

Harus diberikan metode “intervensi” ketika memberikan pemahaman secara komprehensif terhadap adat dan budaya.  Kami terlebih dulu masuk dalam kehidupan adat mereka, kemudian memberikan pemahaman agar adat mereka menjadi produktif. Kami juga memberikan intervensi pendampingan kepada mereka. Pendampingan ini dilakukan dengan hati yang tulus. Kami juga melakukan intervensi teknik dari stimulan alat peraga kepada mereka dalam bercocok tanam.

Metode kegiatan itu kami lakukan secara berulang-ulang. Jika mereka sudah melakukan dua, tiga, atau empat kali, akhirnya mereka sudah bisa melakukan sendiri. Meskipun kita tahu, saudara-saudara kita di sana mayoritas buta baca tulis dan berhitung. Tapi masyarakat di sana menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi, tak melulu menggunakan bahasa lokal Papua.

Lahan tandus di pedalaman Papua diubah Ali Zum Mashar menjadi lahan pertanian yang subur

Ketertinggalan itulah yang harus bisa bangun, sehingga dalam waktu 3 tahun akan memunculkan kader-kader pembangunan dari kampung tersebut. Jika mereka sudah mau hidup bersama dalam suatu kelompok, otomatis jika kita berikan pembinaan atau intervensi di bidang pendidikan, bidang kehidupan sosial yang lebih maju, lebih mudah dibandingkan kita membiarkan mereka tinggal di hutan-hutan secara nomaden.  Ibaratnya, jika kita memberikan pemahaman kepada satu atau dua orang warga di kampung itu, energinya terlalu besar.

Pendekatan lain agar mereka merubah pola kehidupan dari nomaden menjadi subsisten?

Kuncinya kita membuat suatu kegiatan dengan memanfaatkan halaman-halaman rumah mereka yang dibangun oleh pemerintah. Salah satu kegiatannya, setiap kepala rumah tangga memiliki kebun gizi keluarga. Jadi, kami melatih kegiatan budidaya tanaman kepada warga di kampung itu. Caranya, dengan melakukan potensi-potensi alam yang ada di hutan kemudian dibudidayakan di masing-masing halaman rumah warga.

Hasil panen dari usaha menanam ini, minimal untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga mereka sehari-hari. Bayangkan, jika mereka mencari makanan dan meramu dari dalam hutan, kadang dapat buruan atau makanan, kadang tidak. Sementara anak-anak mereka harus tetap mendapatkan makanan. Dengan metode budidaya yang kami terapkan ini, anak-anak itu tetap mendapatkan kebutuhan pangan, begitupula dengan orangtuanya. Khusus bagi ibu-ibu yang masih menyusui, mereka dapat memberikan ASI yang baik kepada bayinya.

Manfaat lain dari metode yang kami terapkan ini, mereka bisa lepas dari permasalahan gizi buruk, serta lepas dari ancaman bahaya mencari makanan dan berburu di hutan dari binatang-binatang buas.

Kegiatan yang Anda lakukan di pedalaman Papua ini atas nama pribadi atau lembaga?

Kebetulan saya sebagai peneliti di bidang Bioteknologi di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Kami sedang membuat metode desa sangat teringgal menjadi desa mandiri dalam jangka 3 sampai 7 tahun. Selain itu, pengalaman saya sebagai seorang entrepreneur dapat saya terapkan dalam hal pemberdayaan hingga tahap kegiatan industrialisasi kepada masyarakat di Kampung Usku.

Dari hasil kajian dan penerapan metode ini, langkah apakah yang akan ditempuh Kementerian Desa?

Metode ini baru kali pertama dilakukan di Indonesia, khususnya dalam merubah peradaban yang sangat ekstrem. Artinya merubah peradaban dari yang semua sangat tertinggal menjadi berkembang dari 100 tahun menjadi 7 tahun atau 3 tahun.

Dari hasil penerapan metode ini, akan kami jadikan masukan ke pihak Kementerian Desa bahwa untuk membangun desa yang selama ini dilakukan dengan pendekatan infrastruktur semata, itu tidak benar. Kenapa? Yang terjadi hanyalah “proyek”. Kita contohkan yang terjadi di Papua, infrastruktur dibuat dengan baik, serta ada dana Otonomi Khusus (Otsus), tapi para kepala suku di sana mengatakan, mereka tidak merasakan dana Otsus tersebut.

Mereka bahkan mengatakan dana Otsus itu tidak ada manfaatnya. Alasannya, karena yang melintas di jalan raya itu adalah orang yang memiliki kendaraan, sementara mereka berjalan kaki. Kemudian, yang menikmati sekolah itu adalah yang ada gurunya, sementara di tempat mereka tidak ada gurunya. Mereka mengaku tetap kesulitan mencari bahan makanan.

Pabrik pembuatan Mikroba Google Bio P 2000 Z yang mampu menyuburkan berbagai lahan dan tanaman

Karena itu yang perlu disentuh adalah, bagaimana kegiatan itu menyetuh kebutuhan setiap rumah tangga yang ada dalam kelompok masyarakat itu. Bukan hanya kebutuhan yang nampak di permukaan saja. Jadi, kegiatan pemberdayaan desa atau membangun desa itu adalah membangun intervensi yang menyentuh pada gerakan penyadaran secara produktif dan menyentuh kebutuhan dasar setiap rumah tangga, yaitu kebutuhan pangan.

Bagaimana sikap penduduk asli ketika kali pertama Anda hadir di Kampung Usku?

Ketika kami baru masuk ke Kampung  Usku, yang memiliki peradaban nomaden, tidaklah mudah. Butuh perjuangan dan kesabaran. Sebagai orang asing, kami sangat dicurigai. Apalagi setelah mendengar rasa traumatis dari para warga yang sering dijanji-janjikan oleh pemerintah. Mereka bertanya kepada kami,” Kau datang mau tipu-tipu kali lagi ya?” Mereka sudah apatis. (Baca selengkapnya di Majalah Visioneer).

Berita Lainnya

Nur Khasanah, Sukses Mengelola PKBM RNJ, Ingin Mendirikan Universitas

visioneernews

Bupati Soekirman Tak Sekadar Luncurkan Program Inovatif, Tapi Berkelanjutan

visioneernews

Ajib Hamdani: Target Saya Satu Juta Warga Binaan

visioneernews

Suherman Dinata Meretas Bisnis dari Beras, Ekspansi CNG, Properti, dan Dryer Gabah

visioneernews

Anto Suroto: UKM dan IKM Ruang Usaha yang Seksi

visioneernews

Kunci Hendrar Prihadi Jadikan Kota Semarang Terbaik di Indonesia

visioneernews