Home » BWI Mendorong Wakaf Lebih Produktif untuk Kesejahteraan Ummat
NASIONAL

BWI Mendorong Wakaf Lebih Produktif untuk Kesejahteraan Ummat

Jakarta,visioneernews-Badan Wakaf Indonesia (BWI) terus mendorong pemanfaatan wakaf secara produktif. Maka, penting dilakukan peningkatan pemahaman dan literasi tentang wakaf produktif untuk kesejahteraan ummat.

Sebagian masyarakat mungkin belum mengetahui bahwa tanah tempat dibangunnya Stadion Senayan, yang berada di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), merupakan wakaf dari Teuku Markam. Pria yang lahir tahun 1925 di Alue Campil, Seunodon, Aceh Utara, ini adalah seorang pengusaha kaya dari tanah Aceh pada zaman Pemerintahan Presiden Soekarno. Teuku Markam juga mewakafkan 28 kilogram emas yang digunakan untuk api Tugu Monumen Nasional. Ia meninggal di Jakarta pada tahun 1985.

Tanah dan emas yang diwakafkan Teuku Markam merupakan salah satu contoh pemanfaatan pengelolaan wakaf secara produktif oleh pemerintah. Karena, Stadion Senayan tak hanya dijadikan tempat penyelenggaraan olahraga tingkat nasional, tapi juga internasional. Begitu pula Monas, terus berkembang menjadi kawasan wisata bersejarah andalan Pemerintah DKI Jakarta.

Hal inilah yang terus didorong oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) agar pemanfaatan wakaf akan menciptakan manfaat lebih besar, bahkan dapat meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian di Indonesia.

Kondisi berbeda jika wakif (pemberi wakaf), memberikan harta bendanya semata difungsikan untuk pembangunan masjid, makam, atau sekolah. Sehingga, pengelolaan wakaf tersebut tidak berkembang. Namun, jika di area masjid atau sekolah yang diwakafkan itu dibangun pula bangunan-bangunan lain, semisal apartemen, pertokoan,  atau bangunan bisnis lainnya, maka akan lebih produktif dan berkembang. Sehingga akan memberikan value creation.

“Karena keterbasan dalil yang dijumpai, para ulama sepakat bahwa fiqh wakaf banyak masuk ke dalam area ijtihad. Hal ini bukanlah menjadi sebuah penghalang, tapi justru harus dipandang sebagai sebuah khazanah pengembangan bagi kemaslahatan ummat,” kata Wakil Ketua BWI, Imam Teguh Saptono, mewakili Ketua BWI, HM. Nuh sebagai keynote speaker acara Halal bi Halal Badan Wakaf Indonesia dengan para jurnalis di Aone Hotel, Menteng, Jakarta, Selasa (9/7/2019).

Dalam acara ini hadir pula mitra kerja dan stakeholders BWI, antara lain Edi Fairus dari Bank Indonesia, Rini Megawati dan Riana dari Kementerian Koperasi dan UKM, Arif Mahfud dari OJK, Alfizah dari Bank Mandiri Syariah, Ahmad Fahmi dari BNI Syariah, Fajar Boby dari Bank Mega Syariah, dan Dimas B. Pamungkas dari BJB Syariah.

Teguh menduga, salah satu tidak berkembang dan produktifnya wakaf di Indonesia, mungkin karena yang diwakafkan bukan harta benda yang disayangi wakif.

Ia mengklasifikasi harta benda wakaf terdiri dari dua kriteria, yaitu benda tak bergerak dan benda bergerak. Benda tak bergerak terdiri hak atas tanah, bangunan atau bagian dari bangunan yang berdiri di atas hak atas tanah, tanaman dan benda lain yang terkait dengan tanah, hak milik atas satuan rumah susun, dan benda tidak bergerak lain sesuai dengan syariah dan UU yang berlaku.

Sedangkan benda bergerak atau harta benda yang tidak bisa habis karena dikonsumsi, yaitu uang, logam mulia, surat berharga, kendaraan, hak atas kekayaan intelektual, hak sewa, dan benda bergerak lain sesuai dengan ketentuan syariah dan UU yang berlaku.

Pengurus BWI bersama mitra kerja dan stakeholders

Sementara Susono Yusuf, Panitia Penyelenggara acara Halal bi Halal BWI, menekankan pentingnya sosialisasi tentang pemahaman dan literasi wakaf sejak dini. Salah satu program edukasi yang sedang dijalankan BWI adalah Wakaf Goes to Campus. Tahap pertama, program ini sudah dilaksanakan di Universitas Indonesia, dan akan menyasar universitas dan kampus-kampus lain di Indonesia.

Di samping itu, BWI terus mensinergikan dengan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, Bappenas, dan lembaga lain dalam membahas pemanfaatan wakaf untuk menunjang keuangan negara.

Lembaga-lembaga tersebut antara lain membahas mengenai instrument-instrumen yang masuk dalam sistem keuangan negara. Misalnya, surat berharga syariah (sukuk), polis asuransi, deposito, dan lainnya.

“BWI juga terus memberikan pembinaan peningkatan pengetahuan para pengelola wakaf atau nazir untuk terlibat dalam pembangunan nasional. Mereka bisa mengelola dana wakaf untuk kegiatan-kegiatan yang lebih produktif,” sambung Teguh.

Ia juga berharap media massa ikut terlibat mensosialisasikan pemahaman dan pemanfaatan wakaf yang lebih produktif untuk peningkatan kesejahteraan ummat. (Syarif)   

Berita Lainnya

Mendagri Sampaikan Duka Cita dan Apresiasi kepada Jajaran Bawaslu yang Sakit hingga Meninggal dalam Tugas

visioneernews

Panglima TNI Tekankan Peningkatan Kesiapan Antisipasi Accident

visioneernews

Presiden Jokowi Sudah Tahu Arah Pemda Membuat Banyak Perda

visioneernews

Fahira Idris: Masyarakat Punya Saringan Sendiri Memilih Mubaligh

visioneernews

Selain Mahal, Tim Susur Temukan Masalah Lain Tol Trans Jawa

visioneernews

Di Hadapan para Bupati, Presiden Sebut Ekonomi Dunia saat Ini Sulit Diprediksi

visioneernews

Leave a Comment