Home » Ini Fenomena dan Cara Mencegah KLB Hepatitis A
Kesehatan

Ini Fenomena dan Cara Mencegah KLB Hepatitis A

Oleh: Laura Navika Yamani, S.Si, M.Si, Ph.D

HEPATITIS A merupakan penyakit yang pada umumnya disebabkan oleh agen virus hepatitis A. Penularan virus Hepatitis A dapat ditransmisikan melalui fecal-oral. Pada umumnya virus ini mengkontaminasi makanan, minuman, dan sumber air.

Lingkungan yang kotor dan pemukiman padat penduduk merupakan faktor resiko pemicu timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB).

Kasus yang baru saja terjadi, hepatitis A di Pacitan telah memakan korban sebanyak 581 orang. Kasus tersebut telah ditetapkan oleh Pemkab Pacitan sebagai status KLB, karena telah mencapai ratusan orang dan telah memenuhi kriteria Permenkes tentang KLB.

Penderita tersebut berasal dari tiga kecamatan, yaitu Sudimono, Ngadirojo, dan Tulakan. Bahkan penularan ini dilaporkan sudah merambah ke kecamatan lain, salah satunya di Kecamatan Kebonagung.

Penetapan kasus KLB hepatitis A didasarkan pada data terkait dengan jumlah penderita dan melihat gejala klinis yang ditimbulkan pada kasus. Untuk data sudah memenuhi karena sudah banyak korban yang timbul. Sedangkan untuk gejala, penderita tersebut akan menunjukkan gejala klinis yang mirip antara lain demam, lemas, mual dan muntah, warna urine menajdi gelap, dan warna tinja menjadi pucat.

Selain itu, untuk penegakan diagnosis perlu dilakukan sampling sampel penderita dan dilakukan uji laboratorium. Hasil ini dapat memastikan agen penyebab hepatitis A apakah disebabkan oleh virus hepatitis A atau tidak.

Pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur sudah melakukan sidak di Pacitan bersama dengan Badan Penelitian Kesehatan Lingkungan (BPTKL) Jawa Timur. Dari data yang didapat dipastikan bahwa penderita yang tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Pacitan positif hepatitis A.

Membahas detail tentang agen virus hepatitis A, sebagai peneliti beberapa riset sudah pernah saya lakukan terkait dengan virus hepatitis bersama tim di Universitas Airlangga. Penelitian sebelumnya kami melakukan analisis Kasus KLB hepatitis A yang disebabkan oleh virus hepatitis A di dua SMP di Surabaya yang terjadi pada periode 2015-2016.

Hasil studi yang kami dapatkan dapat menujukkan karakteristik dari virus hepatitis A yang telah menyebabkan KLB tersebut apakah sari satu sumber. Jadi, selain kita bisa mengambil sampel dari penderita sebagai bahan uji, kita juga bisa mengambil dari sumber kontaminasi, misalkan makanan, minuman, air, atau tanah di sekitaran kejadian. Sehingga apakah berasal dari sumber lingkungan atau dari individu rentan yang tertular dengan virus hepatitis A dari sumber di luar mereka tinggal.

Laura Yavika Yamani, S.Si, M.Si, Ph.D

Saya punya pengalaman ada mahasiswa asing datang dari Jepang untuk melakukan kegiatan penelitian di Lembaga Penyakit Tropis Universitas Airlangga. Mahasiswa tersebut sakit dengan gejala rasa tidak enak dan demam, gejala tersebut berkembang 12 hari setelah pulang ke Jepang dari Indonesia. Kemudian mahasiswa tersebut melakukan uji cek laboratorium dan mengalami peningkatan IgM anti-HAV antibody. Ternyata mahasiswa tersebut positif terdiagnosis dengan acute hepatitis A.

Setelah dilakukan penelitian lebih intensif untuk karakter dari virusnya, ditemukan data bahwa virus tersebut secara karakter molekularnya mirip 100% dengan strain yang diidentifikasi di Surabaya pada penelitian sebelumnya. Hal tersebut membuktikan bahwa virus tersebut didapatkan mahasiswa ketika tinggal di Surabaya atau virus impor.

Pentingnya mempelajari karakter molekular dari virus karena kita tahu bahwa di era mobilitas populasi seperti sekarang ini sudah memudahkan individu berpindah dari satu daerah ke daerah lain, dari satu negara ke negara lain. Sehingga penyerabaran strain virus yang sifatnya ekslusif di suatu negara dapat menyebar ke negara lain.

Upaya Pencegahan

Sebagai dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat di Departemen Epidemiologi, ini merupakan tantangan bagi kami untuk mencari sumber penularan virus tersebut dan perlu pemberian sosialisasi untuk memutus mata rantai penularan agen tersebut. Karena epidemiolog harus mampu menginvestigasi sumber penularan dan mencegah risiko penularan.

Hal yang paling sederhana yang bisa dilakukan adalah menjaga higienitas atau kebersihan dari lingkungan dan melakukan upaya untuk meminimalisir penyebaran agen virus tersebut. Misalkan, apakah perlu vaksin hepatitis A diberikan di masyarakat sekitar yang dekat dengan area KLB. Ada laporan yang disampaikan oleh Pemkab Pacitan, kasus ini penularannya bukan hanya dari kontaminasi makanan atau minuman, tetapi sudah tertular dari orang ke orang. Ini berarti bahwa diperlukan investigasi kepadatan penduduk area tersebut dan bagaimana dari Tim Dinkes bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat agar bisa mencegah penularan virus hepatitis A.

Pencegahan virus hepatitis A sebenarnya juga bisa dicegah dengan melakukan imunisasi hepatitis A. Tetapi, program vaksinasi virus hepatitis A masih belum menjadi program vaksinasi wajib dan rutin di Indonesia. Berbeda dengan negara lain, program vaksinasi hepatitis A ini merupakan program vaksinasi yang diwajibkan untuk warga negaranya ketika akan datang di negara Indonesia.

Yang saya sangat tahu adalah orang Jepang ketika ada rencana berkunjung ke Indonesia disarankan untuk mahasiswa yang tinggal sekitar 3 minggu diwajibkan untuk mendapatkan vaksinasi hepatitis A, sebelum datang ke Indonesia. Ini merupakan upaya preventif bagi mereka untuk terjangkit virus hepatitis A. Karena mereka tahunya negara kita merupakan negara yang endemic dengan hepatitis virus A.

Memang virus hepatitis A merupaka tipe penyakit yang hanya sampai pada tingkat akut dan tidak pernah menimbulkan tingkat kronis, sehingga tingkat penyembuhannya lebih besar, bahkan mungkin tidak menimbulkan kematian. Tetapi sekali lagi perlu diingat bahwa ketika virus hepatitis A menjangkit pada kelompok yang rentan, misalnya orangtua atau anak-anak inilah yang bisa menimbulkan gejala yang lebih serius dengan komplikasi, bahkan kematian. Sehingga perlu dilakukan penanganan cepat untuk pemberantasan penularan dari hepatitis virus A tersebut, sehingga tidak menimbulkan korban. (Penulis adalah dosen pada Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga dan alumnus Kobe University Jepang)

Berita Lainnya

Teknik MICS, Pasien Bedah Jantung Disayat 2 hingga 3 Centimeter

visioneernews

Dirawat di ICU, Wali Kota Risma Dipakaikan Alat Bantu Napas dan Pipa Makanan

visioneernews

Video SBY Memohon Doa Kesembuhan Istrinya Menderita Kanker Darah

visioneernews

LSPR dan RS PON Tanda Tangani MoU Mencegah dan Kendalikan Stroke di Indonesia

visioneernews

Leave a Comment