Home » Is Anwar: Indonesia Butuh Pemimpin Berani, Tegas, Bervisi Jelas, dan Jujur
INDONESIANA

Is Anwar: Indonesia Butuh Pemimpin Berani, Tegas, Bervisi Jelas, dan Jujur

DALAM urusan mencari nafkah, sumber daya manusia Indonesia saat ini tidak hanya dihadapkan dengan persaingan antar domestik, tapi juga regional, bahkan internasional. Kondisi ini ditandai sejak 31 Desember  2015, negara-negara Asean telah membuka pintu perekonomian yang terintegrasi dalam satu kelompok regional, yaitu Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Pembentukan pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara, yang diistilahkan MEA ini, memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara. Maka, terjadi kompetisi yang semakin ketat. MEA juga membuka arus pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan tenaga kerja profesional lainnya.

Memang, bukan hanya pemberlakuan MEA yang dikhawatirkan masyarakat Indonesia. Di era globalisasi saat ini, secara kasat mata, telah terjadi persaingan antara negara-negara di dunia internasional. Persaingan yang begitu kentara adalah masuknya produk-produk asing, tak hanya dari negara Asean, ke Indonesia.

“Saat ini dunia bisnis sudah memasuki era globalisasi. Arti global adalah antar negara tidak ada batas. Jadi, untuk menghadapi era globalasisai, pemerintah harus meningkatkan mutu para pebisnis itu sendiri. Tanpa adanya mutu dan kualitas yang bagus, kita akan ketinggalan dengan negara-negara lain,” kata Presiden Komisaris PT Nagari Development Coorporation (PT NDC), H Is Anwar Datuk Rajo Perak SH.

Menurut mantan Wakil Ketua Komisi X DPR-RI periode 2004-2009 ini, rakyat Indonesia, khususnya para pengusaha di Tanah Air, lebih dulu memperkuat basik ilmu berbisnis modern serta belajar Bahasa internasional, seperti Bahasa Inggris.

“Jika kita sudah menguasai ilmu bisnis modern dan pandai berbahasa internasional, ke dunia manapun kita mau berbisnis, tidak ada masalah. Justru yang dibutuhkan adalah kecerdasan ilmu, bukan uang  cash semata. Pengusaha mana sih yang memiliki  uang cash. Malah ada yang memulai bisnis dari tidak punya apa-apa. Tapi dia bersemangat. Dia punya skill dikembangkan dan tak pernah bosan untuk terus belajar dan belajar. Makanya ada istilah learning never ends,” papar peraih The Best Planner of Business International dari Menteri Perindustrian dan Perdagangan tanggal 1 Oktober 2004 dan International Profesional of The Year 2006 dari International Achievment Foundation.

Is Anwar mengungkapkan, sebelum menjadi seorang entrepreneur seperti sekarang ini, ia memulainya dari bawah.  Kariernya diretas penuh perjuangan. Malah suatu ketika Is Anwar pernah menjadi pesuruh kantor, sopir taksi, hingga menjadi wartawan dan pemimpin umum media nasional, sebelum akhirnya mendirikan beberapa perusahaan.

Ketua Lembaga Pendidikan Al-Azhar Plus Bogor ini menekankan, yang penting dalam menjalani hidup ini, kita tidak menipu, tidak berbohong orang lain. Menurutnya, kejujuran itu sangat penting. Ketika orang itu pandai dalam berbisnis dan menguasai bahasa dari pelbagai negara, jika tidak ada kejujuran, jangan harap akan sukses.

“Kuncinya adalah kejujuran. Jujur terhadap diri sendiri, jujur kepada induk semang, dan jujur kepada teman-temannya,” Is Anwar memberi nasihat.

Namun, Is Anwar enggan berkomentar ketika ditanya peran Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla dalam mendorong kemajuan sumber daya  manusia Indonesia dalam menghadapi era globalisasi saat ini.

“Untuk pemerintahan sekarang saya tidak banyak komentar. Kenapa? Kita lihat saja, antara menteri A dengan menteri B, bicaranya dalam menanggapi suatu masalah berbeda,” ungkapnya.

Maka Is Anwar berpandangan, ada orang-orang tertentu sudah siap menghadapi era globalisasi, tapi rakyat secara keseluruhan belum siap.

Mantan Pimpinan Umum Harian Terbit, Tabloid  Aksi, dan Tabloid Obor Reformasi ini mengakui, pemerintahan Jokowi-JK telah melakukan perubahan-perubahan, terutama di bidang infrastruktur. Is Anwar hanya berpandangan bahwa Indonesia sebenarnya  membutuhkan pemimpin yang membawa perubahan nyata, pemimpin yang berani, tegas, memiliki visi dan misi yang jelas, dan jujur.

“Saya tidak mengatakan pemimpin yang sekarang ini tidak tegas dan tidak berani. Tapi kita membutuhkan pemimpin yang berani, tegas, dan jujur,” imbuhnya.

Mencari pemimpin yang memiliki kreteria seperti, menurut Is Anwar, memang  tidak mudah. “Artinya, ada pemimpin yang  jujur, bagus, dan pintar, kadang-kadang dia tidak tegas. Saya yakin negara ini kondisinya akan berubah menjadi negara yang jelas arah tujuannya, jika pemimpinnya memiliki kriteria-kriteria tersebut,” kata mantan wartawan Harian Poskota di era tahun 1970-an.

Menurut Is Anwar, melakukan kebijakan proteksi di dalam negeri untuk melindungi produk-produk dari negara lain, bisa saja dilakukan pemerintah. Yang mendesak, katanya, kita harus fokus ke internal dulu, perkuat dalam negeri dulu. Setelah kondisi dalam negeri kuat, baru kita bicara ke luar.

“Proteksi itu kan cara bagaimana kita membuat sesuatu agar siap menghadapi persaingan dengan pihak luar. Tapi yang paling penting bukan itu saja. Banyak masalah yang harus kita perhatikan. Jika kita punya pemimpin yang berani, tegas, jujur, dan memiliki visi dan misi jelas, potensi negara kita ini luar biasa,” imbuhnya.

Tak kalah penting, lanjut Is Anwar, penegak hukum harus mampu mengikis mental koruptor yang sudah menyentuh ke berbagai sisi kehidupan. Mulai dari tingkat RT, RW, kelurahan, camat, bupati, gubernur, sampai tingkat lebih atas. “Prosentasinya lebih besar yang bobrok ketimbang yang baik,” pungkasnya.

 

 

Berita Lainnya

The Legend 98 Gelar Aksi Damai Save Papua, NKRI Harga Mati

visioneernews

Frans Kaisiepo, Pahlawan Nasional Pengusul Nama Irian

visioneernews

Ini Reaksi Panglima TNI terhadap Aksi Babinsa Panjat Tiang Bendera

visioneernews

Ketua DPR RI Bangga Keris Indonesia Diakui Dunia

visioneernews