Home ยป September Sesak Napas
OPINI

September Sesak Napas

Oleh: Syarifudin Bachwani

(Penikmat Kopi Indonesia)

SEDUHAN kopi panas tersaji di gelas tatkala asyik melihat unggahan vlog Presiden Joko Widodo (Jokowi) di media social.

Kali ini video yang di-upload Jokowi saat dia bersama cucunya, Jan Ethes, terlihat asyik berjalan-jalan serta bermain dengan rusa di pelataran Istana Bogor.

Banyak netizen yang mengomentari aksi Kepala Negara. Yang suka, tentu memuji. Tapi, tak sedikit pula yang mengkritik. Bahkan setengah cibiran netizen dari luar negeri.

Salah satu musababnya, ketika video itu terpublish pada Sabtu, 21 September 2019, masyarakat di Sumatera dan Kalimantan tengah sesak napas. Mereka masih terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Padahal, Jokowi sempat merasakan kabut asap. Di foto, tanpa masker, ia menghirup asap dari sisa-sisa lahan yang terbakar di Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Pelalawan, Riau, Selasa, 17 September 2019. Ekspresinya terlihat sedih. Sepatunya pun sampai kotor saat meninjau area lahan yang terbakar. Bisa jadi napasnya pun ikut sesak. 

Senin, 23 September 2019, warga di Wamena, Papua, juga sesak napas. Mereka terdampak asap dari beberapa bangunan pemerintahan dan umum dibakar massa. Terlansir yang membakar para pelajar. Mereka termakan isu rasis dari seorang guru kepada seorang pelajar di sekolah.

Di tanggal bersamaan, mahasiswa di berbagai daerah demonstrasi. Aksi dengan massa mahasiswa lebih besar–dari gabungan aliansi universitas/perguruan tinggi–berlanjut pada Selasa, 24 September 2019. Suasana lebih panas. Di daerah, ratusan bahkan ribuan mahasiswa mencoba merangsek masuk ke kantor DPRD. Di Ibu Kota Negara, ribuan mahasiswa bertitik kumpul di depan gedung DPR/MPR RI.

Mahasiswa yang demo satu suara: menolak  RUU KPK dan KUHP. Beberapa pasal di kedua RUU itu dinilai nyeleneh, jika tak ingin dibilang tidak pro-rakyat. Namun, Jokowi dipastikan tidak bakal mengeluarkan Peraturan Pengganti Undang-undang (Perppu) terkait revisi UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang KPK–yang sudah disahkan DPR.  Sementara RUU KUHP, hasil sidang paripurna DPR memutuskan untuk ditunda disahkan. Pembahasan dilimpahkan kepada anggota DPR baru, periode 2019-2024.  

Ilustrasi

Mahasiswa yang demo kecewa, disuarakan melalui teriakan protes. Mereka memaklumatkan mosi tidak percaya kepada anggota dewan dan pemerintah. Imbalannya, mahasiswa juga sesak napas. Mereka terpapar gas air mata yang ditembakkan melalui senjata pelontar Pasukan Antihuru-hara (PHH). Plus basah kuyup disemprot air dari water cannon.

Tragedi-tragedi itu memakan korban. Materi dan nyawa melayang. Rakyat sembelit. Rakyat yang mana? Yang berpenghasilan pas-pasan. Sumber sembelit: kondisi perekonomian Indonesia sedang  lemah, daya beli rendah, sementara iuran BPJS Kesehatan dan tarif listrik ikut naik.  

Napas rakyat semakin sesak. Seiring dimunculkannya masalah-masalah baru. Siapa yang memunculkan? Mungkin anggota DPR, pemerintah, dan konglomerat bisa bantu menjawab. Karena napas mereka masih panjang.Sementara rakyat berdompet tipis napasnya ngos-ngosan.

Ahhh.. September tahun ini memang tak ceria.

Berita Lainnya

PEPERA 1969, Upaya Belanda Menguasai Papua

visioneernews

HUBUNGAN HABIBIE DAN PAK HARTO: Personal Politik Indonesia

visioneernews

Upaya All Out BWI Sosialisasikan Wakaf Produktif

visioneernews